headerphoto

Elektronika dan listrik sejatinya berasal dari perhitungan, seperti kenapa MCB di rumah terpasang 4 A bukannya 100 A? atau bagaimana 3 fase 380 V bisa jadi 1 fase 220 V? dan sebagainya, selalu bergelut dengan perhitungan. Kalo perhitungannya tepat it's ok, tapi kalo salah? bisa bahaya.. Salah satu cara untuk meminimalisir kesalahan bisa kita gunakan software aplikasi seperti Electronics Workbench.

Software Electronics Workbench atau biasa disingkat EWB, merupakan software simulasi, sehingga bila kita menghitung sebuah soal pembahasan elektronik, selain hasil perhitungannya didapat, juga rancangannya bisa kita peroleh dan kita gunakan.

Adapun perlunya software seperti EWB dan sejenisnya, antara lain:
- Perhitungan manual seringkali salah dalam meletakan angka atau rumus, perhitungan software tentu akan tepat
- Kita bisa membandingkan hasil perhitungan dengan hasil simulasi
- Tidak tersedia komponen atau bahan-bahan uji coba
- Membuat sebuah rangkaian atau rancangan elektronik
- Mengetahui cara menggunakan alat-alat ukur
- Mengetahui karakteristik dari komponen-komponen atau alat-alat ukur, dsb.

Contoh sederhana, simulasi mengukur arus dan tegangan pada beban berupa sebuah resistor seperti gambar di bawah ini


Perhatikan:
- Untuk mengukur arus, alat ukur dalam hal ini Ampere meter dihubungkan secara seri dengan beban rangkaian
- Untuk mengukur tegangan, alat ukur dalam hal ini Volt meter dihubungkan secara pararel dengan sumber tegangan atau beban rangkaian
- Ampere meter dan Volt meter di set pada pengukuran AC, karena terhubung dengan sumber AC
- Berdasarkan perhitungan I = V / R, maka diperoleh I = 10 V / 5 Ω = 2 A
- Bandingkan dengan hasil simulasi, apakah sama?

Contoh simulasi mengukur arus dan tegangan pada beban impedansi RLC seperti gambar di bawah ini


Perhatikan:
- Untuk mengukur arus dan tegangan, caranya sama dengan langkah di atas
- Beban R dihubung seri dengan L, lalu keduanya dihubung pararel dengan C
- Berdasarkan perhitungan (lihat di Rangkaian Penurun Biaya Pemakaian Listrik), diperoleh
IZ1 = 1,25 A
IZ2 = 1,6 A
IZt = 1 A
- Bandingkan dengan hasil simulasi, apakah sama?

Lanjut baca »»

Contoh soal:
Lihat gambar rangkaian di bawah ini. Jika R = 5 Ω, C = 25,33 nF, L = 1 μH, dan tegangan 10 V frekuensi 1 MHz. Hitung masing-masing impedansi dan arus dalam rangkaian?


Penyelesaian:
- R = 5 Ω
- L = 1 μH = 10-6 H
- C = 25,33 nF = 25,33 . 10-9 F
- f = 1 MHz = 106 Hz
- V = 10 V

- Rangkaian seri R dan L, membentuk impedansi Z1
Z1 = R + jXL
Z1 = R + j(2 π f L)
Z1 = 5 + j(2 × 3,14 × 106 × 10-6)
Z1 = 5 + j6,28 Ω ... rectangular
Z1 = 8 ∟ 51° Ω ... polar

- C menghasilkan reaktansi kapasitif, membentuk impedansi Z2
Z2 = jXC
Z2 = - j[1 ÷ (2 π f C)]
Z2 = - j[1 ÷ (2 × 3,14 × 106 × 25,33.10-9)]
Z2 = - j6,28 Ω ... rectangular
Z2 = 6,28 ∟ -90° Ω ... polar, lihat di Bilangan Kompleks Rectangular menjadi Polar

- Impedansi Z1 pararel dengan Z2, hasilnya ekivalen impedansi total Zt
Zt = Z1 // Z2
Zt = Z1 × Z2 ÷ (Z1 + Z2)
Zt = 8 ∟ 51° × 6,28 ∟ -90° ÷ [5 + j6,28 + (-j6,28)]
... ingat!!! perkalian dalam polar, penjumlahan dalam rectangular
Zt = 50,24 ∟ -39° ÷ [5 + j0]
Zt = 50,24 ∟ -39° ÷ 5 ∟ 0°
Zt = 10,05 ∟ -39° Ω

- Tiap arus yang mengalir dalam rangkaian

IZ1 = V ÷ Z1
IZ1 = 10 ÷ (8 ∟ 51°)
IZ1 = 1,25 ∟ -51° A

IZ2 = V ÷ Z2
IZ2 = 10 ÷ (6,28 ∟ -90°)
IZ2 = 1,6 ∟ 90° A

IZt = V ÷ Zt
IZt = 10 ÷ (10,05 ∟ -39°)
IZt = 1 ∟ 39° A

Perhatikan:
- Bila rangkaian hanya terdiri dari R dan L, maka arus yang dibutuhkan sebesar 1,25 A
- R dan L menggambarkan beban induktif, seperti motor, ballast lampu TL, pompa air, mesin cuci dll
- Bila ke dalam rangkaian R dan L tadi dipasang C secara pararel, maka arus yang dibutuhkan akan berkurang menjadi 1 A
- Dengan kata lain, dengan memasang kapasitor akan terjadi penurunan arus sebesar 1,25 - 1 = 0,25 A
- Penurunan arus = penurunan biaya pemakaian listrik
- Bila biaya pemakaian listrik untuk 1 A 1 jam = Rp 1000 misalkan, berapa biaya pemakaian listrik selama 10 jam?
1 A 1 jam = Rp 1000
1 A jam / Rp 1000 = 1 A 10 jam / x
x (1 A jam / Rp 1000) = 10 A jam
x = 10 A jam * Rp 1000 / 1 A jam
x = Rp 10000
nu leuwih gampang kieu yeuh..
1 A jam = Rp 1000
10 A jam = Rp 10000
- Ketika terjadi penurunan arus sebesar 0,25 A maka besar penghematan tiap jamnya kira-kira Rp 250, right. Berapa penghematan biaya untuk 1 hari (24 jam)? 1 minggu? dan 1 bulan? sok itung, hehe..
- Perhitungan di atas merupakan dasar perhitungan koreksi faktor daya, lengkapnya insya Alloh di posting berikutnya


Gambar di atas merupakan diagram aliran arus listrik dalam rangkaian. Jika timbul pertanyaan mengapa IZt ≠ IZ1 + IZ2? bukankah menurut Hukum Kirchoff Arus atau KCL (Kirchoff Current Law) mengatakan bahwa arus yang masuk ke dalam rangkaian samadengan arus yang keluar dari rangkaian tersebut?

Jawabannya ada pada sifat kapasitor dalam rangkaian AC, yaitu menyimpan energi dalam bentuk medan listrik dan mengembalikan energi ke dalam rangkaian. Energi kapasitor mengalirkan arus listrik, disini besarnya kira-kira
IXC = IZ1 + IZ2 - IZt
IXC = 1,25 + 1,6 - 1
IXC = 1,85 A

Lanjut baca »»

Contoh soal 1:
Lihat gambar rangkaian campuran (seri pararel) di bawah ini. Jika R1 dan R2 nilainya masing-masing 5 Ω, C1 nilainya sebesar 25,33 nF, L1 sebesar 1 μH, dan tegangan 10 V frekuensi 1 MHz. Berapakah impedansi yang diberikan oleh rangkaian?


Penyelesaian 1:
- R1 = 5 Ω
- R2 = 5 Ω
- L1 = 1 μH = 10-6 H
- C1 = 25,33 nF = 25,33 . 10-9 F
- f = 1 MHz = 106 Hz
- V = 10 V

- Rangkaian seri R1 dan C1, membentuk impedansi Z1
Z1 = R1 + jXC1
Z1 = R1 - j[1 ÷ (2 π f C1)]
Z1 = 5 - j[1 ÷ (2 × 3,14 × 106 × 25,33.10-9)]
Z1 = 5 - j6,28 Ω ... rectangular
Z1 = 8 ∟ -51° Ω ... polar, lihat di Bilangan Kompleks Rectangular menjadi Polar

- Rangkaian seri R2 dan L1, membentuk impedansi Z2
Z2 = R2 + jXL1
Z2 = R2 + j(2 π f L1)
Z2 = 5 + j(2 × 3,14 × 106 × 10-6)
Z2 = 5 + j6,28 Ω ... rectangular
Z2 = 8 ∟ 51° Ω ... polar

- Impedansi Z1 pararel dengan Z2, hasilnya ekivalen impedansi total Zt
Zt = Z1 // Z2
Zt = Z1 × Z2 ÷ (Z1 + Z2)
Zt = 8 ∟ -51° × 8 ∟ 51° ÷ [5 - j6,28 + (5 + j6,28)]
... ingat!!! perkalian dalam polar, penjumlahan dalam rectangular
Zt = 64 ∟ 0° ÷ [10 + j0]
Zt = 64 ∟ 0° ÷ 10 ∟ 0°
Zt = 6,4 Ω

Contoh soal 2:
Hitung tiap arus yang mengalir dalam rangkaian pada contoh soal 1!

Penyelesaian 2:
IZ1 = V ÷ Z1
IZ1 = 10 ÷ (8 ∟ -51°)
IZ1 = 1,25 ∟ 51° A

IZ2 = V ÷ Z2
IZ2 = 10 ÷ (8 ∟ 51°)
IZ2 = 1,25 ∟ -51° A

IZt = V ÷ Zt
IZt = 10 ÷ 6,4
IZt = 1,56 A

Lanjut baca »»


Beban-beban listrik dalam artikel Konsep Impedansi, digambarkan dengan garis lurus (vertikal, horizontal) terhadap sumbu xy. Hal itu terjadi, disebabkan karena beban yang dicontohkan adalah beban murni, baik itu resistor, induktor atau kapasitor. Lalu, bagaimana bila bebannya tidak murni? Hasilnya, berupa garis diagonal, dan akan membentuk segi tiga impedansi, seperti gambar di samping.

Contoh soal 1:
Hitunglah impedansi rangkaian, jika resistor bernilai 5 Ω diseri dengan induktor 1 μH, dimana frekuensi 1 MHz dan tegangan 10 V!

Penyelesaian 1:
Z = R + jXL
Z = R + j2 π f L ... (lihat di Reaktansi Induktif)
Z = 5 + j(2 × 3,14 × 106 × 10-6)
Z = 5 + j6,28 Ω
Z = 8 ∟ 51° Ω ... (lihat di Rectangular menjadi Polar)

Dalam bentuk rectangular, impedansi nilainya sebesar 5 + j6,28 Ω, ketika digambarkan dalam sumbu xy hasilnya terlihat di bawah ini


Dalam bentuk polar, impedansi nilainya sebesar 8 ∟ 51° Ω, trigonometri segitiga impedansi RL terlihat di bawah ini


Contoh soal 2:
Hitunglah impedansi rangkaian, jika resistor bernilai 5 Ω diseri dengan kapasitor 25,33 nF, dimana frekuensi 1 MHz dan tegangan 10 V!

Penyelesaian 2:
Z = R + jXC
Z = R - j[1 ÷ (2 π f C)] ... (lihat di Reaktansi Kapasitif)
Z = 5 - j[1 ÷ (2 × 3,14 × 106 × 25,33.10-9)
Z = 5 - j6,28 Ω
Z = 8 ∟ -51° Ω

Dalam bentuk rectangular, impedansi nilainya sebesar 5 - j6,28 Ω, ketika digambarkan dalam sumbu xy hasilnya terlihat di bawah ini


Dalam bentuk polar, impedansi nilainya sebesar 8 ∟ -51° Ω, trigonometri segitiga impedansi RC terlihat di bawah ini

Lanjut baca »»

Secara garis besar, beban-beban dalam rangkaian listrik dikategorikan menjadi 3, yaitu: resistif, induktif dan kapasitif. Bila artikel sebelumnya membahas Konsep Impedansi pada ketiga beban tersebut, kali ini kita akan mengenal istilah lagging dan leading.

Beban rangkaian bersifat resistif, maka tegangan dan arus memiliki fase yang sama.

Contoh soal 1:
Sebuah resistor terhubung dengan tegangan AC, dimana nilai R = 5 Ω, V = 10 V, f = 1 MHz, hitung arus yang mengalir padanya?

Penyelesaian 1:
Z = R + jXL + jXC
Z = 5 + j0 + j0
Z = 5 Ω

I = V / Z
I = 10 V / 5 Ω
I = 2 A

Bentuk gelombang beban resistif terlihat seperti di bawah ini


Beban rangkaian bersifat induktif, maka fase arus akan tertinggal dari tegangan atau disebut dengan istilah lagging (tertinggal, terbelakang).

Contoh soal 2:
Sebuah induktor terhubung dengan tegangan AC, dimana nilai L = 1 μH, V = 10 V, f = 1 MHz, hitung arus yang mengalir padanya?

Penyelesaian 2:
Z = R + jXL + jXC
Z = 0 + j6,28 + j0
Z = j6,28 Ω ... (lihat di Reaktansi Induktif)
Z = 6,28 ∟ 90° Ω

I = V / Z
I = 10 ∟ 0° V / 6,28 ∟ 90° Ω
I = 1,6 ∟ -90° A

Bentuk gelombang beban induktif (lagging) terlihat seperti di bawah ini


Beban rangkaian bersifat kapasitif, maka fase arus akan terdahulu dari tegangan atau disebut dengan istilah leading (terdahulu, terdepan).

Contoh soal 3:
Sebuah kapasitor terhubung dengan tegangan AC, dimana nilai C = 25,33 nF, V = 10 V, f = 1 MHz, hitung arus yang mengalir padanya?

Penyelesaian 3:
Z = R + jXL + jXC
Z = 0 + j0 -j6,28
Z = -j6,28 Ω ... (lihat di Reaktansi Kapasitif)
Z = 6,28 ∟ -90° Ω

I = V / Z
I = 10 ∟ 0° V / 6,28 ∟ -90° Ω
I = 1,6 ∟ 90° A

Bentuk gelombang beban kapasitif (leading) terlihat seperti di bawah ini

Lanjut baca »»

Konsep impedansi digambarkan dalam koordinat kartesius atau sumbu xy. Beban resistif mengarah ke sumbu x positif (garis ke kanan), beban induktif mengarah ke sumbu y positif (garis ke atas) dan beban kapasitif mengarah ke sumbu y negatif (garis ke bawah). Dalam bilangan kompleks, x merupakan bagian ril dan y merupakan bagian imajiner.


Jika beban rangkaian hanya berupa resistor murni, maka garis impedansi searah dengan sumbu x positif.

Contoh soal 1:
Diketahui R = 5 Ω terhubung tegangan AC dengan V = 10 V, f = 1 MHz, berapa impedansinya?

Penyelesaian 1:
Z = R + jXL + jXC = 5 + j0 + j0 = 5 Ω
disini, Z = R


Jika beban rangkaian hanya berupa induktor murni, maka garis impedansi searah dengan sumbu y positif.

Contoh soal 2:
Diketahui L = 1 μH terhubung tegangan AC dengan V = 10 V, f = 1 MHz, berapa impedansinya?

Penyelesaian 2:
Z = R + jXL + jXC = 0 + j6,28 + j0 = j6,28 Ω ... (lihat di Reaktansi Induktif)
disini, Z = jXL


Jika beban rangkaian hanya berupa kapasitor murni, maka garis impedansi searah dengan sumbu y negatif.

Contoh soal 3:
Diketahui C = 25,33 nF terhubung tegangan AC dengan V = 10 V, f = 1 MHz, berapa impedansinya?

Penyelesaian 3:
Z = R + jXL + jXC = 0 + j0 -j6,28 = -j6,28 Ω ... (lihat di Reaktansi Kapasitif)
disini, Z = jXC

Lanjut baca »»

Contoh soal:
Sebuah rangkaian seri yang ditunjukkan gambar di bawah ini, terdiri dari resistor, induktor dan kapasitor. Rangkaian terhubung dengan tegangan AC yang memiliki frekuensi 1 MHz. Hitung impedansi rangkaian jika nilai resistor yang diberikan adalah 5 Ω, induktor 1 μH dan kapasitor 25,33 nF!


Penyelesaian:
Diketahui:
  • R = 5 Ω
  • L = 1 μH = 10-6 H
  • C = 25,33 nF = 25,33 . 10-9 F
  • f = 1 MHz = 106 Hz
Z = R + jXL + jXC
Z = R + j(2 π f L) − j[1 ÷ (2 π f C)]
Z = 5 + j(2 × 3,14 × 106 × 10-6) − j[1 ÷ (2 × 3,14 × 106 × 25,33.10-9)]
Z = 5 + j6,28 − j6,28
Z = 5 Ω

Maka diperoleh impedansi rangkaian sebesar 5 Ω.

Tambahan:
- Lihat rumus impedansi Z, di artikel Impedansi dan Reaktansi
- Rumus XL, di artikel Reaktansi Induktif
- Rumus XC, di artikel Reaktansi Kapasitif.

Lanjut baca »»

Reaktansi kapasitif adalah reaktansi yang berasal dari kapasitor, simbolnya XC dan satuannya Ohm. Sama halnya dengan reaktansi induktif, reaktansi kapasitif bereaksi bila dihubungkan dengan tegangan bolak-balik, sehingga nilainya merupakan bagian imajiner dalam bilangan kompleks rumus impedansi, ditulis

Z = R + jXC ....... [1]

dimana:
Z = Impedansi (Ω)
R = Resistansi (Ω)
XC = Reaktansi kapasitif (Ω)

Nilai XC dapat diperoleh dari
XC = − 1 ÷ (ω C) ....... [2]
ω = 2 π f ....... [3]

Menggabungkan persamaan [2] dan [3], menjadi

XC = − 1 ÷ (2 π f C) ....... [4]

dimana :
π = Pi ≈ 3,14
f = Frekuensi (Hertz atau disingkat Hz)
C = Kapasitansi (Farad atau disingkat F)

Dengan menggabungkan persamaan [1] dan [4], maka diperoleh rumus impedansi (R dan C)

Z = R − j[1 ÷ (2 π f C)]

Contoh soal:
Hitunglah impedansi gambar rangkaian di bawah ini, jika resistor bernilai 5 Ω dan kapasitor 25,33 nF, dengan frekuensi 1 MHz


Penyelesaian:
Z = R − j[1 ÷ (2 π f C)]
Z = 5 − j[1 ÷ (2 × 3,14 × 106 × 25,33.10-9)]
Z = 5 − j6,28 Ω

Lanjut baca »»

Reaktansi induktif adalah reaktansi yang berasal dari induktor, simbolnya XL dan satuannya Ohm. Reaktansi induktif hanya bereaksi bila dihubungkan dengan tegangan bolak-balik, sehingga nilainya merupakan bagian imajiner dalam bilangan kompleks rumus impedansi, atau ditulis

Z = R + jXL ....... [1]

dimana:
Z = Impedansi (Ω)
R = Resistansi (Ω)
XL = Reaktansi induktif (Ω)

Nilai XL dapat diperoleh dari
XL = ω L ....... [2]
ω = 2 π f ....... [3]

Menggabungkan persamaan [2] dan [3], menjadi

XL = 2 π f L ....... [4]

dimana :
π = Pi ≈ 3,14
f = Frekuensi (Hertz atau disingkat Hz)
L = Induktansi (Henry atau disingkat H)

Dengan menggabungkan persamaan [1] dan [4], maka diperoleh rumus impedansi (R dan L)

Z = R + j2 π f L

Contoh soal:
Hitunglah impedansi gambar rangkaian di bawah ini, jika resistor bernilai 5 Ω dan induktor 1 µH, dengan frekuensi 1 MHz


Penyelesaian:
Z = R + j2 π f L
Z = 5 + j(2 × 3,14 × 106 × 10-6)
Z = 5 + j6,28 Ω

Lanjut baca »»

Apa itu impedansi?
Pertanyaan tersebut diberikan oleh tim penguji kepada saya, saat seminar tugas akhir beberapa tahun yang lalu. Apa jawaban saya? gak perlulah disebut disini dan cukup panjang saya menjawabnya, padahal jawaban yang diminta sangat singkat, kata penguji,
impedansi adalah Z = R + jX.

Kemudian, dari beberapa referensi saya kumpulkan artikel mengenai impedansi dan salah satunya menemukan artikel sangat bagus yang saya kutip dari blog Inalocku

Resistansi, reaktansi dan impedansi merupakan istilah yang mengacu pada karakteristik dalam rangkaian yang bersifat melawan arus listrik. Resistansi merupakan tahanan yang diberikan oleh resistor. Reaktansi merupakan tahanan yang bersifat reaksi terhadap perubahan tegangan atau perubahan arus. Nilai tahanannya berubah sehubungan dengan perbedaan fase dari tegangan dan arus. Selain itu reaktansi tidak mendisipasi energi. Sedangkan impedansi mengacu pada keseluruhan dari sifat tahanan terhadap arus baik mencakup resistansi, reaktansi atau keduanya. Ketiga jenis tahanan ini diekspresikan dalam satuan ohm.

Saya simpulkan:
  • Resistansi, reaktansi dan impedansi, ketiganya sama-sama bersifat melawan arus listrik dengan satuannya Ohm
  • Resistansi berasal dari resistor, simbolnya R
  • Reaktansi bisa berasal dari induktor dan (atau) kapasitor, yang bereaksi bila dihubungkan dengan tegangan bolak-balik (VAC), simbolnya X
  • Reaktansi yang berasal dari induktor disebut reaktansi induktif. Induktor simbolnya L, sehingga reaktansi induktif simbolnya XL
  • Reaktansi yang berasal dari kapasitor disebut dengan reaktansi kapasitif. Kapasitor simbolnya C, sehingga reaktansi kapasitif simbolnya XC
  • Karena reaktansi hanya bereaksi bila dihubungkan dengan VAC, maka nilai reaktansi merupakan bagian imajiner atau simbolnya menjadi jX. Penjelasan mengenai bagian imejiner silahkan klik di Kenapa ada Bilangan Imajiner pada Ilmu Listrik?
  • Impedansi merupakan gabungan resistansi dan reaktansi, simbolnya Z.

Maka ketemulah rumus impedansi:
Z = R + jX
Z = R + jXL
Z = R + jXC
Z = R + jXL + jXC
Z = R + j(XL + XC)

Lanjut baca »»

Kenapa ada bilangan imajiner pada ilmu listrik (atau elektronika)? Sebelum pertanyaan tersebut dibahas, terlebih dahulu lihat contoh soal bilangan kompleks polar menjadi rectangular di bawah ini
5,6 ∟ 90° = ?
x (real) = r (cos φ) = 5,6×(cos 90) = 0
y (imaginer) = r (sin φ) = 5,6×(sin 90) = 5,6
5,6 ∟ 90° = 0 + j5,6 = j5,6.
Pada baris terakhir ada angka 5,6 yang didahului oleh huruf j, huruf inilah yang disebut bilangan imajiner. Lalu mengapa ada bilangan imajiner? nah berikut ini jawabannya:

*Bagian riil dan imajiner
Dalam matematika, jika diketahui bilangan kompleks z = x + iy (yang mana i adalah bilangan imajiner sedang x dan y adalah bilangan riil) maka x disebut bagian riil dan y disebut bagian imajiner dari z.

Bagian riil dari bilangan kompleks z ditulis Re(z) atau ℜ(z) dan bagian imajiner ditulis Im(z) atau ℑ(z), ℜ dan ℑ adalah huruf kapital R dan I dalam huruf gothic. Penulisan tanpa tanda kurung dapat pula digunakan, Re z atau ℜ z dan Im z atau ℑ z, selama tidak ada ambiguitas dalam pembacaan.

Kegunaan
Perhitungan fungsi periodik dalam bilangan riil, seperti misalnya grafik arus bolak-balik atau medan elektromagnetik, sebenarnya merupakan penyederhanaan perhitungan bilangan kompleks dengan hanya memperhatikan bagian riil-nya saja.

Dalam bidang kelistrikan, jika tegangan gelombang sinus diberi beban linear (yaitu beban yang nantinya jika tegangannya sinus maka arus yang mengalir berupa gelombang sinus juga), arus listrik yang mengalir dalam kabel dapat ditulis sebagai bilangan kompleks (dalam ilmu kelistrikan sering digunakan j sebagai bilangan imajiner karena lambang i biasa digunakan untuk arus listrik). Dalam notasi bilangan kompleks tersebut x adalah "arus sebenarnya" (arus yang timbul ketika ada tegangan) sedang y adalah "arus imajiner" (arus ketika tidak ada tegangan listrik).

Dalam trigonometri, perhitungan sering menjadi lebih mudah dengan memandang fungsi periodik dalam bidang kompleks.

Referensi: *Wikipedia
Tambahan: Bilangan imajiner = j = √-1.

Lanjut baca »»

Bilangan hexa decimal adalah bilangan yang mempunyai 16 buah angka, terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E dan F, dimana:
A melambangkan angka 10
B melambangkan angka 11
C melambangkan angka 12
D melambangkan angka 13
E melambangkan angka 14
F melambangkan angka 15.
Bilangan hexa decimal berbasis 16.

Bobot bilangan hexa decimal
160 = 1 → angka ke-1, bobot satuan
161 = 16 → angka ke-2, bobot enam belasan
162 = 256 → angka ke-3, bobot 256-an
163 = 4096 → angka ke-4, bobot 4096-an
164 = 65536 → angka ke-5, bobot 65536-an
dan seterusnya.

Contoh soal:
Ubah (konversi) bilangan hexa decimal 2E1 menjadi bilangan desimal!

Penyelesaian:
2E1(16) = ? (10)
1 → 1 × 160 = 1
E → 14 × 161 = 224
2 → 2 × 163 = 512
2E1 → 512 + 224 + 1 = 737
2E1(16) = 737(10)

Lanjut baca »»

Bilangan oktal merupakan salah satu jenis sistem bilangan teknik digital, bilangan oktal mempunyai 8 buah angka, yaitu: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7. Bilangan oktal berbasis 8.

Bobot bilangan oktal
80 = 1 → angka ke-1, bobot satuan
81 = 8 → angka ke-2, bobot delapanan
82 = 64 → angka ke-3, bobot enam puluh empatan
83 = 512 → angka ke-4, bobot lima ratus dua belasan
84 = 4096 → angka ke-5, bobot 4096-an
dan seterusnya.

Contoh soal:
Berapakan nilai desimal bilangan oktal 645?

Penyelesaian:
645(8) = ? (10)
5 → 5 × 80 = 5
4 → 4 × 81 = 32
6 → 6 × 82 = 384
645 → 384 + 32 + 5 = 421
645(8) = 421(10)

Lanjut baca »»

Berikut ini adalah email yang dikirimkan Dian Damayanti kepada saya, empat hari yang lalu
Bp. Zaldi
Kami mau menanyakan mengenai penggunaan timer H3CR-A8 untuk penyiraman tanaman 3 kali sehari yaitu jam 09.00 ; 13.00 dan 17.00 lamanya masing-masing 10 menit dan timer tsb di aplikasikan dengan solenoid valve, contohnya pada saat jam 09.00 solenoid tsb ON dan jam 09.10  solenoid tsb OFF.
Kami mohon diberikan rangkaiannya berapa timer yang akan digunakan dan bahan tambahan lainnya.
Terima kasih
Sebagai tanggapannya, saya telah mencoba beberapa kali menggambarkan wiring diagram atau rangkaian yang sesuai dengan keperluan. Kiranya rangkaian memerlukan clock timer untuk pengaturan jam supaya lebih akurat, namun jujur saja, saya belum berpengalaman dengan clock timer tsb. Sehingga hasil terbaik menurut saya, seperti gambar di bawah ini

Click to enlarge

Perhatikan:
# Durasi penyiraman tanaman 10 menit, ini menjadi tugas timer 4 (T4)
# Penyiraman tanaman dilakukan 3x sehari, yaitu jam 09:00, 13:00 dan 17:00, interval waktu tiap penyiraman adalah 4 jam, ini menjadi tugas timer 3 (T3)
# Total waktu yang diperlukan untuk peyiraman adalah 09:00 s/d 17:00, sama dengan 8 jam, ini menjadi tugas timer 2 (T2)
# Jeda waktu penyiraman dari jam 17:00 s/d 09:00 esok hari adalah 16 jam, ini menjadi tugas timer 1 (T1).

Alat yang diperlukan
  1. T4 OFF delay set 10 menit
  2. T3 OFF delay set 4 jam
  3. T2 OFF delay set 8 jam + 5 menit
  4. T1 ON delay set 16 jam – 5 menit
    Note:
    * T1 Timer H3CR-A8 100-240 VAC OMRON
    * T2 s/d T3 Timer H3CR-H8L Power OFF Delay 200-240 VAC OMRON
    * ± 5 menit pada set T2 dan T1 sebagai overlap dan keseimbangan
  5. S1 Push button (tombol reset), ditekan pada jam 09:00 sebagai awal kerja rangkaian
  6. X1 Solenoid valve coil 220 VAC.
Kurang lebihnya seperti itu, silahkan dicoba terlebih dahulu, ACTION. Kalau ada kekurangan silahkan diberi tahu.

Lanjut baca »»