headerphoto

Telah diuraikan bahwa sekeliling penghantar dapat dibangkitkan medan magnet yang disebabkan oleh aliran arus ke dalam penghantar tersebut. Medan magnet akan meningkat jika arus yang mengalir meningkat, dan jika arus mengecil maka medan magnet pun mengecil.

Pada waktu arus meningkat, akan dibangkitkan medan magnet yang meluas. Garis-garis gaya magnet akan bergerak memotong penghantar disebelahnya dan menginduksikan ggl (gaya gerak listrik) ke dalamnya. Arah arus yang diinduksikan itu berlawanan dengan arah arus yang menginduksikan yang sedang meningkat. Peristiwa ini disebut dengan induksi timbal balik (mutual induction). Tetapi pada waktu arus yang menginduksikan menurun, maka arah dari arus yang diinduksikan itu sama dengan arah dari arus yang menginduksikan (lihat peristiwa induksi diri).

Dua buah kumparan yang ditempatkan saling berdekatan, maka antara satu sama lain akan terjadi penginduksian. Disini arus yang sedang meningkat pada kumparan satunya menginduksikan ggl pada kumparan yang lain. Ggl yang dibangkitkan akan menjadi lebih kuat bila dua kumparan itu dililitkan pada inti besi. Sedangkan penginduksian yang lebih baik, pada satu inti besi yang sama.

induksi-timbalbalik-mutual-induction
Kumparan yang dihubungkan pada baterai lewat saklar disebut kumparan primer. Pada kumparan primer inilah dibangkitkan medan elektromagnet yang terpotong-potong oleh kumparan sekunder selama proses pembentukan medan magnet induksi.

Jika arus di kumparan primer telah mencapai maksimum, maka besar arus akan menjadi tetap. Pada saat ini dalam kumparan sekunder tidak terdapat ggl dan arus yang diinduksikan. Namun pada saat saklar dibuka medan magnet di kumparan primer menghilang dan gaya gerak listrik lawan diinduksikan ke dalam kumparan sekunder. Adanya ggl ini mengakibatkan timbulnya medan magnet pada kumparan sekunder. Sampai beberapa saat kemudian arus yang diinduksikan menurun menjadi nol, demikian juga medan magnet yang diinduksikan.

Oleh karena mempergunakan sumber DC dari baterai, maka untuk memperlihatkan pengaruh pemutusan arus mempergunakan saklar. Namun jika mempergunakan arus AC tidak dibutuhkan lagi pemutusan hubungan. Karena dalam satu gelombang arus AC terdapat gerak maju mundur (saat positif dan negatif), dan hal ini yang menjadi alasan kenapa trafo menggunakan arus AC.

Lanjut membaca »»

Pemerintah dalam hal ini PLN, lagi gencar mencanangkan gerakan pemasangan listrik dengan sistem prabayar. Listrik prabayar merupakan sistem pemasangan listrik yang bisa kita gunakan apabila kita telah membayar sejumlah nominal pembelian daya listrik (dalam satuan KWH atau Kilo Watt Hour). Bagi anda yang belum mengetahui cara pembelian listrik prabayar ini, berikut akan saya terangkan.

Kita bisa membeli KWH listrik prabayar atau yang biasa disebut dengan token, melalui loket PLN atau loket-loket yang tersedia di berbagai tempat, seperti PT POS Indonesia, loket yang bekerja sama dengan bank swasta, atau melalui mesin ATM. Kita memakai listrik prabayar dan tentu kita akan memiliki kartu kepemilikan listrik tersebut. Bentuknya mirip kartu ATM dan disana terdapat no meter pemilik kartu. No meter atau kartu ini yang jadi identitas kita untuk membeli token, dengan beragam harga antara lain Rp 20.000, Rp 50.000, atau Rp 100.000. Semakin mahal kita beli, semakin banyak jumlah KWH yang akan kita peroleh.

Setelah token kita beli, maka akan kita dapatkan struk pembelian yang berisi 20 angka nomer token, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

struk-pembelian-listrik-prabayar
Kita ketahui, bahwa pada listrik konvensional terpasang meteran analog yang berputar, sedangkan pada jenis listrik prabayar meterannya adalah digital. Nah, 20 angka tadi kita masukkan pada meteran dengan cara mengetik atau menekan tombol-tombol angka. Setelah 20 angka kita ketik, lalu kita akhiri dengan tombol enter (letaknya dipojok kanan bawah, seperti yang bergaris hijau pada gambar dibawah ini).

tombol-meteran-listrik-prabayar
Jangan pernah lupa untuk membeli token sebelum nilai KWH nya habis, hal ini akan berakibat listik di rumah kita akan mati dengan sendirinya

KWH atau daya listrik akan bertambah sesuai nominal yang kita beli.

Lanjut membaca »»

Dioda pelindung sangat penting untuk digunakan ketika kita mensaklarkan arus listrik ke beban-beban yang bersifat induktif, seperti kumparan relay, bel listrik, dinamo atau motor, dan magnet-magnet listrik. Pada beban induktif akan terjadi peristiwa induksi diri, dimana akan menghasilkan arus yang sangat besar yang dapat merusak komponen-komponen didalam rangkaian. Sehingga untuk mencegah rusaknya komponen tersebut, kita gunakan sebuah dioda pelindung.

Gambar-gambar dibawah mengilustrasikan pengaruh induksi diri terhadap kumparan relay.

induksi-diri-terhadap-transistor
Gambar 1 Ketika transistor dalam keadaan aktif arus mengalir melewati kumparan. Arus dapat sedikit berubah-ubah dan apabila demikian, medan magnet yang ditimbulkannya juga akan sedikit berubah-ubah. Tetapi tidak terdapat perubahan-perubahan yang dramatis.

Gambar 2 Ketika transistor terputus dari pasokan listrik (tidak aktif), arus pada kumparan akan jatuh secara seketika dan medan magnet meluruh dengan sangat cepat. Pengaruh induksi ditentukan oleh kecepatan perubahan medan magnet. Semakin cepat laju perubahan tersebut, semakin besar pengaruh yang timbul.

Terputusnya arus ke transistor adalah perubahan yang sangat cepat. Sebuah gaya listrik yang sangat besar diinduksikan pada kumparan, untuk mempertahankan agar medan magnet tidak menghilang. Gaya gerak listrik ini dapat mencapai beberapa ratus Volt, bahkan walaupun tegangan awal pada beban hanyalah sebesar misalnya 10 V. Arus sebesar beberapa ampere akan membanjiri transistor dan menghanguskannya.

Gambar 3 Solusi untuk permasalahan ini adalah menyambungkan sebuah dioda, sebagaimana diperlihatkan dalam gambar, untuk mengalirkan dan membuang arus berlebih ini secara aman.

Lanjut membaca »»

Dalam peristiwa elektromagnet, ketika arus yang melewati sebuah kumparan berubah arah, medan magnet disekitar dan didalam kumparan juga berubah arahnya. Medan magnet yang berubah ini menimbulkan efek yang persis sama sebagaimana layaknya sebuah magnet yang digerak-gerakkan di dekat kumparan, dengan kata lain, medan magnet ini menginduksikan arus lain pada kumparan.

Arus baru yang diinduksikan oleh medan magnet yang berubah tersebut, akan selalu melawan perubahan arus pada kumparan. Efek semacam ini, dimana sebuah kumparan menginduksikan arus pada dirinya sendiri disebut sebagai induksi diri (self induction).

medan-magnet-induksi-diri
Gambar 1 Peristiwa terjadinya elektromagnet, dimana sebuah kumparan diberikan tegangan atau arus listrik.
Gambar 2 Peristiwa terjadinya induksi diri, yaitu pada saat tegangan atau arus listrik pada Gambar 1 diputus.

Apabila terjadi perubahan yang sangat cepat pada arus, seperti misalnya ketika arus diputuskan secara mendadak, induksi diri akan menghasilkan arus yang sangat besar yang dapat merusak komponen-komponen didalam rangkaian. Contoh aplikasi yang mengakibatkan peristiwa induksi diri yaitu rangkaian transistor saklar relay (seperti otomatis lampu jalan).

Lanjut membaca »»

Terkadang kita harus menggunakan rangkaian saklar transistor untuk mengontrol sebuah perangkat daya tinggi. Perangkat tersebut mungkin membutuhkan arus yang lebih besar atau tegangan yang lebih tinggi daripada apa yang dapat ditangani oleh sebuah transistor daya. Atau mungkin kita harus mensaklarkan arus AC yang merupakan suatu hal diluar kemampuan transistor. Situasi-situasi semacam ini mengharuskan kita menggunakan sebuah relay.

Penggunaan transistor saklar relay kita contohkan pada rangkaian otomatis lampu jalan, seperti pada gambar dibawah ini

rangkaian-otomatis-lampu-jalan
Komponen yang diperlukan:
  1. Tegangan 12 VDC
  2. Variabel resistor (VR1) 10 kΩ
  3. LDR (R1) tipe ORP12
  4. Resistor (R2) 22 kΩ
  5. Transistor NPN (Q1) tipe BC548
  6. Relay (RL1) 12 VDC SPDT kontak maksimum 250 VAC 5 A
  7. Dioda (D1) IN4002
  8. Lampu jalan atau mercury lamp 220 VAC 125 W

Relay berfungsi sebagai saklar yang menyambungkan dan memutuskan aliran listrik dari sebuah rangkaian daya yang terpisah, menggunakan kontak-kontaknya yang normal terbuka. Ketika arus mengalir melewati kumparan relay, kontak-kontak relay yang normal terbuka akan menutup.

Cara Kerja:
  • Dalam keadaan terang, nilai tahanan LDR sangat rendah. VR1 diatur agar tegangannya mendekati nol. Q1 tidak akan aktif, relay tidak bekerja, dan lampu tidak akan menyala.
  • Dalam keadaan gelap, nilai tahanan LDR sangat tinggi, akibatnya tegangan pada wiper VR1 mengalami kenaikkan dan Q1 menjadi aktif. Arus mengalir melewati Q1 dan kumparan relay. Relay bekerja dan lampu akan menyala.

Keterangan:
D1 berfungsi sebagai sebuah dioda pelindung. Rangkaian otomatis lampu jalan akan tetap menyala hingga keadaan kembali terang.

Lanjut membaca »»

Arus listrik dapat menghasilkan sebuah medan magnet (disebut dengan peristiwa elektromagnet) dan hal sebaliknya juga berlaku, medan magnet dapat menghasilkan arus listrik (disebut dengan peristiwa induksi).

Jika suatu medan magnet bergerak memotong penghantar yang diam, maka pada penghantar itu akan diinduksikan gaya gerak listrik (ggl). Jika penghantar itu merupakan bagian dari suatu rangkaian tertutup, maka ggl yang diinduksikan akan menyebabkan adanya aliran arus.

Pada gambar dibawah, sebuah magnet batangan yang digerakkan masuk ke dalam sebuah kumparan menginduksikan gaya gerak listrik pada kumparan.

induksi-gayageraklistrik-ggl
Arus akan mengalir dan beda tegangan akan dihasilkan hanya ketika magnet berada dalam keadaan bergerak. Apabila kita membiarkan magnet diam, arus akan berhenti. Apabila kita menggerakkan magnet keluar dari kumparan (atau menarik kembali), maka arus akan mengalir ke arah yang berlawanan.

Perhatikan gambar diatas, bahwa arus akan mengalir ke arah yang sama dengan arah aliran seperti yang terlihat pada gambar pembahasan elektromagnet (lihat disini). Hal ini berarti bahwa arus induksi menghasilkan medan magnet dengan kutub utaranya berada di ujung kumparan yang terdekat dengan magnet. Medan magnet induksi ini berupaya untuk menolak magnet dan menghentikan gerakan magnet memasuki kumparan.
Ingat, sifat magnet: kutub-kutub sejenis saling tolak menolak dan kutub-kutub yang berlawanan saling tarik menarik

Medan magnet induksi akan selalu melawan arah gerakan magnet. Ketika kita menggerakkan magnet keluar dari kumparan, arus akan berubah dan demikian pula arah medan magnet. Sekarang, kutub selatan medan magnet induksi berada di dekat kutub utara magnet. Kutub-kutub yang berlawanan saling tarik menarik. Dengan demikian, terdapat sebuah gaya yang berupa mencegah kita menggerakkan magnet menjauhi kumparan.

Kemana pun arah kita menggerakkan magnet, terdapat gaya yang melawan pergerakkan tersebut. Kita harus melakukan kerja otot ekstra untuk dapat menggerakkan magnet. Energi tambahan yang kita gunakan ini akan dikonversikan menjadi gaya gerak listrik atau timbul beda tegangan, diantara ujung-ujung kawat kumparan.

Komponen atau alat yang bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnet, contohnya adalah trafo.

Lanjut membaca »»

Elektromagnet adalah magnet yang timbul pada suatu penghantar lurus atau kumparan pada waktu dialiri arus listrik. Dari pembahasan arus listrik, kita tahu bahwa elektron didalam kawat, bergerak dari negatif ke positif. Akan tetapi pengertian arus disini bukanlah menggunakan arus listrik menurut teori elektron, melainkan arus listrik menurut perjanjian, yakni arus mengalir dari positif ke negatif.

Ketika arus mengalir didalam sebuah kawat, sebuah medan magnet akan terbentuk disekeliling kawat. Medan magnet ini dinamakan medan elektromagnet. Apabila kawat digulung dan dibentuk menjadi kumparan, medan elektromagnet yang dihasilkan akan menyerupai medan magnet dari magnet batangan. Relay merupakan salah satu contoh komponen yang bekerja berdasarkan prinsip elektromagnet.

Medan elektromagnet direpresentasikan oleh garis-garis gaya yang mengindikasikan arah medan didalam dan disekitar kumparan.

kumparan-elektromagnet
Lanjut membaca »»

Hampir semua AVO meter analog (Ampere, Volt, dan Ohm meter, seperti yang terlihat pada gambar dibawah) bisa kita gunakan untuk menentukan kaki dan jenis (PNP atau NPN) transistor. Namun yang perlu diperhatikan pada alat ukur jarum ini, kenop putar harus pada posisi pengetesan Ohm meter atau daerah simbol .

avometer-jarum-analog
Contoh kali ini kita akan mengukur transistor tipe FCS9015, yang cukup banyak digunakan, dan tidak ada dalam tabel data transistor sinyal kecil yang pernah saya tulis disini. Sehingga kita sama-sama belajar menentukan kaki dan jenis transistor FCS9015, dan langkahnya hampir mirip dengan menggunakan multitester digital, yaitu:

1. Mengukur dan Membuat Tabel Pengukuran
  • Siapkan AVO meter dan atur posisi kenop putar pada Ohm meter, dengan skala pengukuran x10
  • Bayangkan atau gambarkan posisi kaki transistor dengan urutan angka 1, 2, dan 3
  • Buat tabel pengukuran dengan 6 buah titik ukur, yaitu 1 - 2, 1 - 3, 2 - 3, 2 - 1, 3 - 1, dan 3 - 2
  • Tetapkan probe warna hitam atau batang uji negatif untuk angka pertama, dan probe warna merah atau batang uji positif untuk angka kedua, contoh: pada titik ukur 1 - 2, probe hitam pada titik 1, dan probe merah pada titik 2
  • Catat hasil tiap kali pengukuran, yang ditunjukkan oleh gerak jarum Ohm meter

    menentukan-kaki-transistor-fcs9015

2. Menentukan Kaki Basis dan Jenis Transistor
Setelah tabel pengukuran kita peroleh, ada dua buah titik pengukuran yang mendapatkan hasil atau jarum Ohm meter bergerak, yaitu titik 1 - 2 dan titik 3 - 2 (lihat gambar di atas). Untuk menentukan kaki basis dan jenis transistor, dengan cara:
  • Basis merupakan angka yang sama yang terdapat pada dua buah titik ukur
  • Jenis NPN atau PNP nya bisa kita tentukan dengan melihat probe mana yang terhubung kaki basis. Apabila titik basis terhubung probe hitam, maka transistor jenis NPN, dan bila titik basis terhubung probe merah, maka transistor jenis PNP
Penggunaan probe pada alat ukur analog berbeda dengan alat ukur digital. Pada alat ukur analog, probe merah terhubung dengan negatif baterai Ohm meter, dan probe hitam terhubung dengan positif baterai Ohm meter.

3. Menentukan Kaki Kolektor dan Emitor
Jarum hasil pengukuran titik 1 - 2 dan titik 3 - 2, menunjuk pada nilai yang nyaris sama, sehingga akan sulit menentukan kaki kolektor dan emitor menggunakan AVO meter analog. Jadi kita gunakan cara manual, yaitu dengan visual atau penglihatan. Ada beberapa ciri yang menandakan kaki kolektor, antara lain:
  • Huruf C yang dicetak lebih besar
  • Terdapat coakan lubang
  • Umumnya terhubung dengan logam pada kemasan atau badan transistor, terlebih lagi pada badan transistor daya tinggi
Kita sudah bisa menentukan kaki basis dan kaki kolektor, maka kaki yang terakhir adalah kaki emitor.

Sehingga kita dapat menyimpulkan, bahwa:
  1. Pada titik 2 kaki basis transistor FCS9015
  2. Transistor FCS9015 merupakan jenis PNP, basis berada diprobe merah
  3. Pada titik 3 kaki kolektor transistor FCS9015, lihat! ada huruf C yang dicetak lebih besar
  4. Pada titik 1 kaki emitor transistor FCS9015
  5. Gambar transistor FCS9015 seperti terlihat dibawah ini

    jenis-transistor-FCS9015

Pertanyaan untuk anda:
  1. Termasuk jenis kemasan apa transistor FCS9015?
    Untuk mengetahui jawabannya, silahkan lihat disini
  2. Lihat gambar transistor BD139 dibawah ini, pada titik berapa yang merupakan kaki kolektor?

    menentukan-kaki-transistor-bd139

Lanjut membaca »»

Syarat untuk menentukan kaki (basis, emitor, dan kolektor) dan jenis (PNP atau NPN) sebuah transistor dengan menggunakan AVO meter atau multimeter atau multitester digital, adalah multitester tersebut harus memiliki fitur test dioda. Fitur pengetesan ini biasanya dilambangkan dengan simbol dioda, seperti yang terlihat pada gambar multitester dibawah ini.

multimeter-dengan-dioda-tester
Kita ambil contoh transistor yang hendak diukur adalah tipe C945, yang cukup banyak digunakan, dan tidak ada dalam tabel data transistor sinyal kecil yang pernah saya tulis disini. Sehingga kita sama-sama belajar menentukan kaki dan jenis transistor C945, dan berikut langkahnya:

1. Mengukur dan Membuat Tabel Pengukuran
  • Siapkan multitester dan atur posisi kenop putar pada fitur test dioda
  • Bayangkan atau gambarkan posisi kaki transistor dengan urutan angka 1, 2, dan 3
  • Buat tabel pengukuran dengan 6 buah titik ukur, yaitu 1 - 2, 1 - 3, 2 - 3, 2 - 1, 3 - 1, dan 3 - 2
  • Tetapkan probe warna hitam atau batang uji negatif untuk angka pertama, dan probe warna merah atau batang uji positif untuk angka kedua, contoh: pada titik ukur 1 - 2, probe hitam pada titik 1, dan probe merah pada titik 2
  • Catat hasil tiap kali pengukuran

    menentukan-kaki-transistor-c945

2. Menentukan Kaki dan Jenis Transistor
Setelah tabel pengukuran kita peroleh, ada dua buah titik pengukuran yang mendapatkan hasil, yaitu titik 1 - 3 sebesar 0,720 VDC dan titik 2 - 3 sebesar 0,716 VDC (lihat gambar di atas). Maka saatnya kita menentukan kaki dan jenis transistor, dengan cara:
  • Basis merupakan angka yang sama yang terdapat pada dua buah titik ukur
  • Jenis NPN atau PNP nya bisa kita tentukan dengan melihat probe mana yang terhubung kaki basis. Apabila titik basis terhubung probe hitam, maka transistor jenis PNP, dan bila titik basis terhubung probe merah, maka transistor jenis NPN
  • Bias maju Emitter-Base lebih besar dari Collector-Base, atau E-B > C-B, pada transistor jenis PNP. Bias maju Base-Emitor lebih besar dari Base-Collector, atau B-E > B-C, pada transistor jenis NPN

Sehingga kita dapatkan kesimpulan:
  1. Pada titik 3 kaki basis transistor C945
  2. Transistor C945 merupakan jenis NPN, basis berada diprobe merah
  3. Pada titik 1 kaki emitor dan pada titik 2 kaki kolektor transistor C945, karena titik 1 - 3 > 2 - 3
  4. Gambar transistor C945 seperti terlihat dibawah ini

    jenis-transistor-c945

Pertanyaan untuk anda:
Termasuk jenis kemasan apa transistor C945?
Untuk mengetahui jawabannya, silahkan lihat disini

Lanjut membaca »»

Bila kita hendak membuat sebuah proyek elektronik (electronic project) yang didalam rangkaiannya terdapat satu atau beberapa komponen transistor, namun bingung menentukan kaki transistor-transistor tersebut, ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk mengatasinya.

Cara menentukan kaki Basis, Emitter, dan Collector dari sebuah transistor, bisa kita bagi menjadi tiga, yaitu:

1. Tanyakan pada Penjual
Pada saat tipe transistor telah ditetapkan untuk kita gunakan, lalu kita berangkat ke toko elektronik untuk membelinya, maka jangan sungkan-sungkan untuk menanyakan kaki-kaki transistor itu. Dengan senang hati penjual akan memberi tahu, lalu kita gambar atau mencatatnya, untuk mengingatkan.

2. Melihat Data Sheet atau Buku Katalog
Kita telah membeli transistor, atau kita telah memilikinya, namun kita belum bisa menentukan yang mana Basis, Emitter, dan Collector. Maka untuk menentukan kaki-kaki transistor bisa lihat di data sheet, buku katalog, atau beberapa sumber yang menginformasikan data-data tipe dan kemasan transistor (seperti tabel data transistor sinyal kecil atau klik disini, dan tabel data transistor daya atau klik disini). Setelah kita peroleh, jangan lupa untuk menggambarnya kembali, untuk mengingatkan.

3. Menggunakan AVO meter atau Multimeter
Selain untuk keperluan mengukur arus, tegangan, dan tahanan listrik, sebuah AVO meter atau multimeter dapat kita gunakan untuk menentukan kaki-kaki transistor. (Pembahasan lengkapnya akan saya tulis pada artikel berikutnya, insya Alloh)

Artikel sudah saya terbitkan, silahkan baca:
# Menentukan Kaki dan Jenis Transistor dengan Multitester Digital
# Menentukan Kaki dan Jenis Transistor dengan AVO meter Analog atau Jarum

Lanjut membaca »»

Relay merupakan jenis saklar yang dikendalikan oleh arus listrik. Bagian utama sebuah relay terdiri dari kumparan atau coil dan kontak. Coil relay dililitkan pada inti. Terdapat armatur besi yang akan tertarik menuju inti apabila arus mengalir melewati kumparan. Armature ini terpasang pada sebuah tuas berpegas. Ketika armatur tertarik menuju inti, kontak jalur bersama akan berubah posisinya dari kontak normal tertutup ke kontak normal terbuka.

Sebuah relay dapat diaktifkan dalam waktu sekitar 10 mS. Sebagian besar relay modern ditempatkan di dalam kemasan yang sepenuhnya tertutup rapat, seperti gambar dibawah ini.

relay
Kebanyakan diantara relay memiliki kontak-kontak jenis SPDT, namun terdapat juga beberapa jenis DPDT, TPDT (Triple Pole Double Throw atau tiga kutub dua jalur), dan bahkan QPDT (Quadruple Pole Double Throw atau empat kutub dua jalur, seperti pada gambar sebelah kanan diatas).
Yang terpenting untuk diperhatikan pada sebuah relay yang akan digunakan adalah tegangan coil dan batas maksimum, arus dan tegangan kontak.

Relay -relay yang berukuran lebih besar dapat menyambungkan arus hingga 10 A pada tegangan 250 VAC. Tegangan maksimum untuk pensaklaran DC selalu lebih rendah, seringkali bahkan hanya setengah dari tegangan maksimum untuk AC.

Terdapat buah gambar pada simbol relay, yaitu coil dan kontak. Berikut ini simbol relay empat kutub dua jalur, QPDT.

simbol-relay-4-kutub
Lanjut membaca »»

Istilah mikro pada saklar mikro atau micro switch, tidak berarti bahwa saklar ini sendiri berukuran kecil. Nama ini mengindikasikan bahwa tombol yang digunakan untuk mengoperasikan saklar mikro, hanya bergeser dengan jarak perpindahan yang sangat kecil.

Saklar jenis ini sangat sensitif, sedikit tekanan saja pada tuas dapat mengakibatkan saklar berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Kebanyakan micro switch memiliki kontak-kontak jenis SPDT, sehingga saklar ini dapat digunakan untuk menyambungkan atau memutuskan, atau keduanya secara bersamaan.

Kontak-kontak SPDT pada micro switch umumnya terdiri dari tiga buah kaki atau tag terminal, yaitu Common atau jalur bersama, NO (Normally Open) atau kontak normal terbuka, dan NC (Normally Closed) atau kontak normal tertutup. Kontak-kontak tersebut dilengkapi dengan pegas, dalam keadaan normal, kontak jalur bersama akan tersambung ke kontak normal tertutup.

Terdapat beragam jenis micro switch, yang bisa digunakan sesuai aplikasi-aplikasi dimana saklar harus dioperasikan secara mekanis. Gambar dibawah ini memperlihatkan bermacam-macam jenis micro switch.

macam-macam-microswitch.jpg
Sebagai contoh, sebuah micro switch dapat dipasang sedemikian rupa di dalam sebuah lemari es. Kontak jalur bersama dan kontak normal tertutupnya disambungkan dengan sebuah lampu. Ketika pintu tertutup kontak-kontak akan membuka dan lampu tidak menyala. Ketika pintu terbuka, kontak-kontak akan menutup dan lampu menyala.

Lanjut membaca »»

Pada artikel sebelumnya, telah dicantumkan tabel data transistor sinyal kecil atau daya rendah (untuk melihatnya klik disini). Kali ini akan mencantumkan tabel data transistor daya yang lebih tinggi.

Tabel data transistor daya berikut menginformasikan tentang tipe (BD131, BD132, BD139, BD140, BD437, BD438, BD679, BD680, 2N3055, MJ2955, TIP31, TIP32, TIP33, TIP34, TIP35, TIP36, TIP41, TIP42, TIP2955, dan TIP3055), jenis (PNP atau NPN), tegangan catu, arus, dan daya maksimum, hfe, bias hfe, lawan (bila jenis PNP diganti NPN, atau sebaliknya), dan kemasan transistor (klik disini untuk melihat gambar kemasannya).

Transistor daya antara lain digunakan untuk keperluan umum (general purpose), rangkaian amplifier, output rangkaian daya, atau rangkaian saklar arus besar. Semoga tabel data transistor daya dibawah ini bisa (juga) menjadi salah satu sumber informasi dalam merencanakan sebuah proyek elektronik.

tabel-transistor-daya
Lanjut membaca »»

Terdapat ribuan jenis transistor di pasaran elektronika, sehingga tidak ada seorang insinyur elektro pun diharapkan mampu mengingat semua karakteristiknya. Akan tetapi informasi tentang lembar data (data sheet) dan karakteristik transistor semacam ini sangat vital untuk merencanakan sebuah proyek elektronik.

Tabel data transistor sinyal kecil berikut menginformasikan tentang tipe (BC107, BC108, BC109, BC140, BC141, BC160, BC161, BC177, BC178, BC179, BC327, BC328, BC337, BC338, BC546, BC547, BC548, BC556, BC557, BC558, BC639, dan BC640), jenis (PNP atau NPN), tegangan catu, arus, dan daya maksimum, hfe, bias hfe, lawan (bila jenis PNP diganti NPN, atau sebaliknya), dan kemasan transistor (klik disini untuk melihat gambar kemasannya).

Transistor sinyal kecil atau daya rendah, antara lain digunakan untuk keperluan umum (general purpose), penguat sinyal kecil, atau rangkaian saklar. Semoga tabel data transistor daya rendah dibawah ini bisa menjadi salah satu sumber informasi.

tabel-transistor-sinyal-kecil
Lanjut membaca »»

Kemasan transistor sangat bervariasi, kemasan transistor daya rendah akan berbeda dengan kemasan transistor daya tinggi. Transistor daya rendah dibuat dengan kemasan dari bahan plastik atau logam. Kemasan transistor daya rendah yang dibuat dari bahan plastik memiliki salah satu ciri permukaan yang berbentuk datar, sedangkan yang terbuat dari logam memiliki sebuah tonjolan (tag) pada piringan bawahnya.

Transistor dengan daya yang lebih tinggi, biasanya dibuat dengan kemasan dari bahan plastik, logam, atau campuran antara plastik dan logam. Logam pada badan transistor, umumnya menandakan sebagai terminal kolektor, dan khusus pada transistor daya tinggi, tag logam tersebut berguna untuk memasang sebuah heat sink atau alat pembuang panas yang terjadi saat proses disipasi.

Fitur-fitur kemasan tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi kaki-kaki terminal transistor. Sebagian besar kemasan transistor dikelompokan dengan istilah TO (Transistor Outline).

Gambar dibawah ini merupakan kemasan transistor yang sering kita gunakan dalam dunia elektronika, diantaranya TO-92A, TO-92B, TO92C, TO-126, TO-220, TO-18, TO-39, TO-3, dan TO-3P(N), berikut kaki-kaki atau terminal Basis, Emitter, dan Collector nya.

kemasan-transistor
Lanjut membaca »»

Transistor BJT daya rendah semisal BC548 sangat cocok untuk digunakan sebagai saklar arus ke LED dan lampu-lampu filamen kecil. Jenis transistor ini memiliki rating arus kolektor hingga 100 mA. Banyak perangkat lainnya, seperti motor DC, membutuhkan arus yang jauh lebih besar dari nilai ini.

Untuk menyambungkan arus pada level yang lebih besar, kita membutuhkan transistor-transistor daya menengah atau daya tinggi. Transistor BJT yang terlihat dalam gambar diatas mampu melewatkan arus hingga 10 A.

Salah satu kendala yang dihadapi dengan listrik daya tinggi adalah bahwa sebagian dari daya yang digunakan akan hilang sebagai panas, atau terjadi proses disipasi (kehilangan daya).

Dengan arus sebesar beberapa Ampere, panas yang dihasilkan dapat menjadi sedemikian besar hingga merusak transistor itu sendiri. Untuk menghindari terjadinya hal semacam ini, kita harus memasang sebuah alat pembuang panas atau heat sink pada tag yang terdapat dibagian atas badan transistor. Piranti heat sink ini akan membuang panas ke lingkungan sekitar.

Sebuah heat sink dapat dibuat dari bahan logam biasanya aluminium, yang mampu mengalirkan panas ke lingkungan sekitar. Sebagian besar heat sink dibuat dengan bentuk sirip-sirip tipis, sehingga memungkinkan arus konveksi yang ada di udara menarik panas dari permukaan sirip. Contoh heat sink seperti terlihat dibawah ini

heat-sink-transistor
Lanjut membaca »»

Komponen-komponen elektronika terbagi menjadi dua jenis, yaitu komponen pasif dan komponen aktif. Komponen pasif merupakan komponen yang tidak dapat mengakibatkan kenaikkan daya listrik didalam rangkaian, contoh-contoh komponen pasif adalah resistor, kapasitor, dan induktor.

Sedangkan komponen aktif adalah komponen yang dapat mengakibatkan kenaikkan daya listrik didalam rangkaian, contoh komponen aktif adalah tansistor.

Resistor memiliki kemampuan untuk mengkonversikan energi listrik menjadi panas. Induktor mampu mengkonversi energi listrik menjadi gaya magnetik. Akan tetapi, tidak satu pun diantara kedua komponen ini yang mampu menimbulkan penambahan daya di dalam rangkaian, maka disebut dengan komponen pasif.

transistor-dayaSebaliknya sebuah transistor menerima input daya rendah (arus kecil) dan mengkonversikannya menjadi output daya tinggi (arus besar), maka transistor disebut dengan komponen aktif.

Lanjut membaca »»

Baterai cukup ideal untuk memberikan tenaga bagi perangkat-perangkat elektronik, seperti radio portable, kalkulator, senter, atau mic portable. Namun bagaimana bila radio tersebut kita nyalakan secara terus menerus? (untuk menemani dagang di pasar, misalnya)

Tentu saja akan banyak baterai yang kita gunakan, dan penggunaan baterai ini akan memboroskan keuangan, karena setiap kali baterai habis, kita harus membeli baterai yang baru.

Ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi boros keuangan akibat seringnya ganti baterai, yaitu mengganti unit baterai alat dengan sebuah unit catu daya (power supply unit, disingkat PSU). Kita bisa membeli unit catu daya di toko-toko elektronik, atau bisa merakitnya sendiri. Untuk merakit, rangkaian catu daya saya tulis disini.

Sebelum menghubungkan catu daya ke alat elektronik, periksa terlebih dahulu tegangan yang diperlukan oleh alat. Tegangan alat bisa kita ketahui dengan menghitung jumlah baterai (1 buah baterai sama dengan 1,5 Volt), atau melihat plat tulisan yang tertera pada belakang alat atau nameplate alat.

Dibawah ini contoh penggunaan catu daya pada radio portable 4 baterai (6 Volt)

radio-portable-dengan-catudaya
Lanjut membaca »»

Dengan menggunakan sebuah trafo tanpa ct, rangkaian penyearah sistem jembatan, dan saklar putar, kita bisa membuat sebuah catu daya peralatan elektronik dengan tegangan yang bervariasi, mulai dari 3 V, 4,5 V, 6 V, 7,5 V, 9 V, sampai 12 V.

Ditambahkan sebuah komponen berupa saklar rocker atau saklar geser sebagai saklar utama, pemutus dan penghubung aliran listrik sumber PLN, dan sebuah LED sebagai indikator alat.

Gambar rangkaiannya akan seperti terlihat dibawah ini

rangkaian-catudaya
Komponen-komponen yang diperlukan, antara lain:
  1. S1= Saklar rocker
  2. S2 = Saklar putar 2 kutub 6 jalur
  3. T1 = Trafo step down tanpa ct 220 V/12V 500 mA
  4. D1, D2, D3, D4 = Dioda IN4002
  5. D5 = LED
  6. R1 = Resistor 220 Ω
  7. C1 = Elco 2200 µF

Lanjut membaca »»

Transformator atau biasa disebut trafo, merupakan alat yang berguna untuk menaikkan dan menurunkan tegangan. Trafo yang digunakan untuk menaikkan tegangan disebut dengan istilah trafo step up, sedangkan trafo yang digunakan untuk menurunkan tegangan disebut dengan trafo step down.

Dibawah ini adalah gambar trafo step down 500 mA, yang bisa menurunkan tegangan listrik PLN 220 V menjadi 12 V, dan umum digunakan dalam dunia elektronika

trafo-elektronika
Sebuah trafo terdiri dari dua buah kumparan (kumparan primer dan sekunder) yang dililitkan pada sebuah inti. Inti trafo ini dibentuk dari lapisan-lapisan besi. Prinsip kerja dari alat ini sepenuhnya menggunakan peristiwa induksi. Ketika arus mengalir melewati kumparan primer, akan dihasilkan sebuah medan magnet. Inti besi trafo menyediakan sebuah jalur untuk dilalui oleh garis-garis gaya magnet sehingga hampir semua garis gaya yang terbentuk dapat sampai ke kumparan sekunder.

Induksi terjadi hanya ketika terdapat suatu perubahan pada medan magnet. Dengan demikian, sebuah trafo tidak dapat bekerja dengan arus DC, karena medan magnetnya diam tidak berubah. Ketika arus AC mengalir melewati kumparan primer, dibangkitkanlah sebuah medan magnet bolak-balik. Medan magnet ini akan menginduksikan arus bolak balik pada kumparan sekunder.

Simbol trafo terlihat seperti dibawah ini

simbol-trafo
Lanjut membaca »»

Rangkaian penyearah sistem jembatan (bridge rectifier) adalah rangkaian penyearah gelombang penuh yang menggunakan empat buah dioda, dan dihubungkan seperti jembatan (bridge). Berbeda dengan bahasan penyearah gelombang penuh pada artikel sebelumnya, dimana rangkaian menggunakan dua buah dioda, kali ini rangkaian penyearah gelombang penuh dengan empat buah dioda.

Selain berbeda dalam jumlah dioda, perbedaan yang lainnya terletak pada penggunaan trafo, dimana trafo yang digunakan pada penyearah sistem jembatan, bukan merupakan trafo yang memiliki ct (center tap) atau menggunakan trafo konvensional tanpa ct.

Bentuk rangkaian penyearah sistem jembatan seperti terlihat dibawah ini

rangkaian-bridge-rectifier
Lanjut membaca »»

Saklar Kunci
Saklar kunci merupakan jenis saklar yang hanya dapat dihidupkan dan dimatikan dengan menggunakan sebuah kunci. Hanya pasangan kunci dan alat pengunci yang tepat yang dapat digunakan untuk mengoperasikan saklar. Saklar-saklar kunci dapat digunakan dalam aplikasi-aplikasi yang membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi, seperti rangkaian kontrol listrik dalam industri.

Contoh saklar kunci seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini

saklar-kunci

Saklar DPDT
Saklar toggle, saklar rocker, dan saklar geser juga dapat dibuat dalam versi double pole double throw atau dua kutub dua arah, yang disingkat dengan saklar DPDT. Bentuk saklar ini menggabungkan dua buah saklar yang terpisah didalam satu unit, namun keduanya dioperasikan secara bersama-sama.

Saklar DPDT dapat digunakan untuk menyambungkan dua rangkaian pada saat yang bersamaan. Saklar-saklar ini juga dapat dihubungkan ke jalur kawat netral dan jalur kawat tegangan dari sumber PLN secara sekaligus. Ketika sebuah saklar berada dalam keadaan mati peralatan listrik yang terhubung kesaklar ini terisolasi secara total dari sumber PLN.

Berikut ini merupakan simbol saklar DPDT

simbol-saklar-dpdt
Lanjut membaca »»

Saklar Rocker
Saklar rocker ini bekerja dengan cara yang sama seperti saklar toggle, dimana terdapat sebuah tuas yang dapat ditekan ke atas dan ke bawah. Tuas saklar-saklar ini biasanya disebut dengan tuas rocker, bentuknya seperti tombol bel listrik.

Umumnya terdapat dua buah angka pada tuas rocker, angka 1 dan 0. Apabila tuas ditekan pada angka 1, mengindikasikan bahwa saklar dalam posisi On, dan bila tuas ditekan pada angka 0, mengindikasikan saklar dalam posisi Off.

Contoh saklar rocker seperti yang terlihat dibawah ini

saklar-rocker
Saklar Geser
Saklar-saklar geser digunakan untuk tujuan-tujuan yang sama dengan penggunaan saklar toggle, namun jenis ini dioperasikan dengan menggunakan sebuah kenop geser.

Contoh saklar geser seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini

saklar-geser
Lanjut membaca »»

Saklar putar (rotary) merupakan jenis saklar yang dioperasikan dengan cara diputar. Saklar-saklar ini digunakan untuk menyambungkan satu jalur ke salah satu diantara beberapa jalur lain yang ada. Seringkali, beberapa buah saklar semacam ini digunakan di dalam satu unit yang sama.

Contoh penggunaan umum saklar putar ini adalah untuk memilih kisaran pengukuran pada sebuah AVO meter atau multimeter, atau untuk memilih tegangan pada sebuah catu daya. Saklar jenis ini memiliki satu buah kontak atau lebih yang dikelilingi oleh sebuah cincin dengan 12 kontak stasioner diam. Saklar-saklar semacam ini dibuat dengan susunan kontak yang berbeda-beda. Susunan-susunan ini dapat berupa 1 kutub 12 jalur, 2 kutub 6 jalur, 3 kutub 4 jalur, dan 4 kutub 3 jalur.

Dibawah ini memperlihatkan simbol saklar putar 2 kutub 6 jalur

simbol-saklar-putar-2kutub-6jalur
Lanjut membaca »»

saklar-tekanSaklar tekan merupakan jenis saklar yang dioperasikan dengan cara menekan sebuah tombol. Terdapat dua jenis saklar semacam ini, yaitu jenis push to make (PTM) dan push to break (PTB).

Kebanyakan diantara saklar tekan merupakan jenis PTM. Dengan menekan tombol saklar, kontak-kontak akan tertekan hingga saling bersentuhan dan saklar menutup. Sedangkan saklar tekan jenis PTB, kontak-kontaknya adalah kontak normal tertutup, namun akan dipaksa membuka ketika tombol ditekan.

Masing-masing saklar tekan jenis PTM dan PTB, dapat bekerja untuk membentuk atau memutuskan sambungan selama sekejap atau menguncinya (latching). Sebuah saklar yang membentuk atau memutuskan sambungan selama sekejap hanya akan menutup atau membuka selama tombol masih ditekan. Ketika tombol dilepaskan saklar akan kembali ke posisi semula.

Pada saklar sambungan yang mengunci, tombol akan tetap berada pada posisi tertekan setelah pertama kali ditekan. Kontak-kontak saklar akan tetap menutup atau membuka, bergantung pada jenis saklar yang bersangkutan. Anda harus menekan tombol itu sekali lagi untuk membuka kunci dan mengembalikan tombol ke posisi normalnya.

Saklar-saklar tekan digunakan secara luas di dalam beragam aplikasi industri, rangkaian kontrol motor, dan dapat juga digunakan untuk menyambungkan daya ke lampu-lampu, perangkat radio, dan peralatan listrik lainnya.

Simbol saklar tekan PTM dan PTB seperti terlihat dibawah ini

simbol-saklar-tekan-ptm-ptb
Lanjut membaca »»

Saklar toggle merupakan bentuk saklar yang paling sederhana, dioperasikan oleh sebuah tuas toggle yang dapat ditekan ke atas dan ke bawah. Menurut konvensinya, posisi tuas ke bawah mengindikasikan kondisi Off atau kontak saklar terputus, dan posisi tuas ke atas mengindikasikan kondisi On atau kontak saklar terhubung.

Saklar-saklar toggle yang lebih besar memiliki dua buah tag terminal, yang mengindikasikan bahwa saklar-saklar ini memiliki kontak jenis single pole single throw atau satu kutub satu arah, yang biasanya disingkat dengan istilah saklar SPST.

Saklar-saklar toggle yang berukuran lebih kecil memiliki tiga buah tag terminal, yaitu kontak jenis single pole double throw atau satu kutub dua arah, biasanya disingkat dengan istilah saklar SPDT. Tag terminal yang berada ditengah adalah jalur arus bersama dan dapat membentuk kontak dengan salah satu dari kedua tag lainnya. Kontak-kontak semacam ini disebut sebagai kontak-kontak ganti changeover contact.

Simbol untuk saklar SPST dan SPDT seperti terlihat dibawah ini

simbol-saklar-spst-spdt
Lanjut membaca »»

Saklar merupakan alat yang digunakan untuk mengontrol aliran arus listrik ke dalam rangkaian. Pada bahasan sebelumnya tentang arus listrik, bahwa arus listrik hanya akan terjadi dalam rangkaian tertutup. Sehingga untuk membuat arus mengalir atau tidaknya, bisa kita gunakan saklar.

Arus mengalir ketika kontak-kontak saklar saling bersentuhan. Dalam keadaan seperti ini, saklar dikatakan menutup atau kontak dilakukan.

Arus tidak dapat mengalir ke dalam rangkaian apabila kontak-kontak tidak saling bersentuhan. Dalam keadaan ini saklar dikatakan membuka atau kontak terputus.

Istilah lain kondisi saklar yaitu On dan Off, dimana kondisi On terjadi apabila kontak dilakukan, sebaliknya kondisi Off terjadi bila kontak terputus.

Terdapat beragam jenis saklar yang digunakan untuk berbagai tujuan yang berbeda. Dibawah ini memperlihatkan simbol umum saklar, kondisi Off yang ditunjukkan Gambar A, dan kondisi On yang ditunjukkan Gambar B.

saklar-off-on
Lanjut membaca »»

Dengan menggabungkan rangkaian saklar transistor, rangkaian pembagi tegangan, dan sensor LDR, kita akan memperoleh sebuah rangkaian sensor cahaya anti maling.

rangkaian-sensor-cahaya-anti-maling
Komponen yang diperlukan
  1. Tegangan 12 VDC
  2. Variabel resistor (VR1) 10 kΩ
  3. LDR (R1) tipe ORP12
  4. Resistor (R2) 4,7 kΩ
  5. Transistor NPN (Q1) tipe BC548
  6. Buzzer (BZ1) 12 VDC

Keterangan:
Bagian sensor terdiri dari sebuah rangkaian pembagi tegangan yang dibentuk oleh variabel resistor VR1 dan LDR. VR1 digunakan untuk mengatur tingkat intensitas cahaya yang diterima LDR. Bagian saklar transistor terdiri dari resistor R2, transistor Q1, dan buzzer BZ1. R2 akan membatasi arus yang diterima dari rangkaian pembagi tegangan. Arus kolektor Q1 melalui buzzer, besarnya sekitar 60 mA.

Cara Kerja:
  • Ketika LDR menerima sedikit cahaya, VR1 diatur sedemikian rupa sehingga tegangan LDR sangat tinggi dan tidak ada arus yang mengalir ke terminal basis Q1, maka buzzer tidak berbunyi
  • Ketika LDR berada dibawah penerangan normal atau sorot cahaya, nilai tahanannya semakin kecil, mengakibatkan turunnya tegangan pada LDR, dan menaikkan tegangan pada VR1. Arus akan mengalir menuju terminal basis Q1 dan buzzer akan berbunyi.

Hanya dengan harga sekitar Rp 40.000 rumah kita insya Alloh akan terjaga dari penusup atau maling yang akan masuk.

Lanjut membaca »»

Gain atau perolehan arus yang dihasilkan oleh transistor, biasanya disebut sebagai gain arus sinyal kecil, sedangkan besaran gain ditulis dengan simbol hfe. Gain ini telah ditentukan nilainya pada saat transistor dibuat, dan dengan kisaran yang sangat beragam. Misalnya transistor NPN tipe BC548 memiliki kisaran antara 110 hingga 800.

Dalam kondisi saturasi, gain merupakan perbandingan arus kolektor terhadap arus basis, atau dengan persamaan

hfe = IC / IB

Contoh soal:
Hitung besarnya gain pada rangkaian transistor dibawah ini

menghitung-gain-transistor
Penyelesaian:
Diketahui nilai IC = 60 mA, arus IB diperoleh dengan hukum Ohm
IB = VBB – VBE / RB
IB = (6 – 0,7) V / 10 kΩ
IB = 5,3 V / 10 kΩ
IB = 0,00053 A
IB = 0,53 mA
Maka besarnya gain atau hfe = IC / IB = 60 mA / 0,53 mA = 113
Lanjut membaca »»

Didalam rangkaian saklar, transistor terkadang berada dalam keadaan tidak aktif, dimana tidak ada sedikit pun arus yang mengalir melewatinya. Kondisi tersebut disebut dengan kondisi sumbat (cut off).

Di saat-saat yang lain transistor berada dalam keadaan yang sepenuhnya aktif, dimana hanya terdapat beda potensial yang relatif kecil antara terminal emitor dan kolektor. Kondisi tersebut disebut dengan kondisi jenuh atau kondisi saturasi (saturation).

Gambar A memperlihatkan keadaan transistor dalam kondisi sumbat, dan Gambar B memperlihatkan keadaan transistor dalam kondisi saturasi.

transistor-kondisi-cutoff-saturas
Lanjut membaca »»

Salah satu fungsi transistor yang paling sering digunakan dalam dunia elektronika adalah sebagai saklar. Untuk mengetahui cara kerja transistor sebagai saklar, kita lakukan percobaan pada rangkaian berikut ini.

saklar-transistor-kondisi-off
Pada kondisi saklar S1 dalam keadaan off atau terbuka, tidak ada sumber tegangan yang terpasang pada terminal basis transistor, sehingga tidak akan ada arus yang mengalir pada rangkaian, dengan kata lain lampu tidak akan menyala.

saklar-transistor-kondisi-on
Pada kondisi saklar S1 dalam keadaan on atau tertutup, sumber tegangan terpasang pada terminal basis transistor, sehingga akan ada arus yang mengalir didalam rangkaian, dengan kata lain lampu akan menyala.

Lanjut membaca »»

Kalau tidak ada tegangan luar yang terpasang pada transistor maka tidak akan ada arus yang mengalir, dengan kata lain semua arus listriknya sama dengan nol. Sehingga untuk menggunakan sebuah transistor, kita harus menghubungkannya sedemikian rupa, sampai diperoleh aliran arus yang kita kehendaki.

Rangkaian dibawah ini merupakan contoh cara kerja transistor NPN

cara-kerja-transistor
dimana:
- Terminal emitor adalah terminal dengan polaritas paling negatif
- Terminal kolektor beberapa Volt lebih positif dibandingkan kaki emitor
- Terminal basis lebih positif 0,7 V (lihat nilai break down voltage) atau lebih besar.

Dengan kondisi-kondisi ini, kita dapat mengetahui bahwa:
  • Arus yang relatif kecil mengalir menuju basis (IB)
  • Arus dengan nilai yang jauh lebih besar mengalir menuju kolektor (IC)
  • Arus basis dan arus kolektor mengalir keluar dari transistor melalui kaki emitor.

Lanjut membaca »»

Transistor merupakan suatu kompenen elektronika yang bersifat semikonduktor, mempunyai kemampuan mengendalikan resistansi efektif dengan mengendalikan sinyal utama (tegangan dan arus listrik) dari jarak jauh.

Terdapat dua jenis keluarga transistor, yaitu transistor bipolar atau bipolar junction transistor disingkat BJT, seperti PNP dan NPN, dan transistor unipolar atau unipolar junction transistor disingkat UJT, seperti FET dan MOSFET.

Transistor terbuat dari kristal silikon atau germanium, dimana suatu lapisan tipe N diapit oleh dua lapisan silikon tipe P. Sebaliknya bisa juga dibuat transistor yang terdiri dari dua lapisan silikon tipe N yang mengapit suatu lapisan tipe P. Kedua macam tansistor tersebut merupakan jenis transistor BJT tipe PNP dan NPN.

Pada umumnya, transistor BJT memiliki 3 terminal yaitu basis (base atau disingkat dengan huruf B), kolektor (collector atau disingkat dengan huruf C), dan emitor (emitter atau disingkat dengan huruf E).

Berikut ini gambar susunan dan simbol transistor BJT tipe PNP

susunan-dan-simbol-transistor-pnp
Berikut gambar susunan dan simbol transistor BJT tipe NPN

susunan-dan-simbol-transistor-npn
Lanjut membaca »»